mari mencari....

Google
 

Thursday, August 21, 2008

hujan..

Hujan yang turun bagaikan mutiara

Berkilau bersinar berkerdipan
Subur menghijau bumi terbentang
Dan bayu berpuput lembut

Cinta yang bersemi
Diwaktu hujan turun
Menyirami ketandusan hati

Dan hujan turut mengiringi
Engkau pergi...

Selembut hujan bercurahan
Begitulah cinta ini
Semesra bumi yang disirami
Begitulah hati ini

Hujan yang turun bersama air mata
Bersama pedih, bersama rindu

Kau datang dan kau pergi jua
Rindu lagi...



hujan memang banyak memberi kesan pada kehidupan saya. tak kira suka atau duka mungkin secara sedar atau tidak hujan memang banyak mempengaruhi. apa orang kata, kalau hujan tu rahmat, mudah2an. teringat zaman kecil2, saya yang memang terkenal dengan penakot air memang akan menangis selagi hujan tu tak berhenti. tak tahu la kenapa tapi yang saya tau pada masa tu hujan tu menakotkan. ditambah2 pula dengan guruh kilat petir. fuhh..memang complete package la tu kiranya. sampailah sekarang, saya memang takut hujan. tak kiralah hujan renyai2, hujan lebat apatah lagi ribut petir. seakan ada rasa tidak selesa dan kemurungan yang akan mendatang pada saya kalau hari hujan. kalau dirumah memang saya akan selubung dari hujung rambut ke hujung kaki. hehehe..apa punya penakot hujan da...tapi hujan itu rezeki dari allah. kalau takde hujan, tanaman akan kering kontang, tapi kalau terlebih hujan, binasa umat manusia. ada cerita kisah rakyat tentang hujan yang saya pernah baca. ada banyak lagi cerita. saya ada letak link disitu so tak lah dikata nanti saya plagiat hasil kerja orang. kalau orang punye kita cakap je orang punya dan declare, apa yang susah sangat. jangan tiru2. tak baik. chewahh...jadi cikgu le pulak. anyway..enjoy the reading..

Raja Cheng Tang Memohon Hujan

Active Image

(Minghui-school.net) Siapakah Raja Cheng Tang ini? Dia adalah seorang raja pada zaman Tiongkok kuno, adalah seorang raja yang mendirikan negara pada masa dinasti Shang (Kira-kira abad ke-16—11 SM), dia adalah raja yang memimpin dengan bijaksana, yang mencintai rakyat layaknya anak sendiri, dan dialah yang memimpin pasukan menggulingkan raja lalim Xia Jie terakhir dinasti Xia.

Sejak itu, rakyat hidup aman sentosa. Namun, tidak lama kemudian, negerinya mengalami bencana kekeringan yang sangat panjang, lama sekali tidak turun hujan, sungguh kekeringan yang belum pernah terjadi selama ini, sehelai rumput pun tidak tumbuh dil adang, tidak ada makanan. Orang mengganjal perut dengan hanya memakan akar rumput atau kulit pohon. Air di danau, sungai atau sumur perlahan-lahan mengering hingga ke dasar, setiap hari disinari dengan panas matahari yang terik, nyaris menguapkan batu di palung sungai. Namun, kala itu orang-orang tak berdaya, hanya bisa berbaris panjang, sepanjang hari dan malam, memukul genderang, mengadakan upacara dan sembahyang kepada Langit Dewata, dengan maksud menggugah Sang Pencipta.

Sampai tujuh tahun berlalu sudah, namun tidak tampak sedikit pun bayangan akan turun hujan. Kala itu, raja sangat gelisah, sedih dan iba melihat orang-orang yang menderita karena kekeringan, tapi dia tak berdaya sedikit pun, dia hanya bisa mengirim lebih banyak orang dan memperluas barisan memohon hujan, namun, semua itu sia-sia, tiada tanda akan hujan.

Suatu hari, seorang ahli nujum istana yang bernama Bu Guan, telah meramal masalah memohon hujan, kemudian peramal istana segera melapor pada raja: “Untuk memohon hujan harus menyelenggarakan sembahyang kepada Langit Dewata dari jiwa manusia, baru bisa turun hujan.” Artinya harus mengorbankan jiwa manusia untuk sembahyang kepada Langit Dewata, kening raja berkerut setelah mendengar penuturan peramal istana dan berkata: “Memohon hujan sesunguhnya adalah untuk menolong rakyat dari bencana kekeringan, jika karena hal ini dan membunuh manusia, bukankah itu dosa yang amat besar ?” Ia tidak setuju dengan cara demikian. Tapi, ia benar-benar tidak tahu cara lainnya yang lebih baik, ia menarik napas panjang sembari mengatakan: “Jika memang harus mengorbankan manusia, biarlah saya saja.” Lalu raja memutuskan mengorbankan dirinya memohon hujan demi rakyat.

Active Image


Akhirnya saat mengadakan upacara memohon hujan-pun tiba. Tampak raja Cheng hanya mengenakan pakaian dari kain kasar warna putih, dengan rambut tergerai, dan tubuh terikat dengan seutas tali putih pemercik api. Duduk di sebuah kereta putih, ditarik oleh dua ekor kuda, menuju ke hutan murbei dewa bumi. Orang-orang yang mengiringi mengangkat bejana berkaki tiga, menyandang bendera, berjalan ke depan sambil memainkan musik yang sedih, kereta raja Cheng berjalan perlahan mengikuti dari belakang, sepanjang jalan para pendeta membacakan doa-doa khusus untuk upacara memohon hujan, pemandangan seperti itu tampak begitu memilukan. Tidak lama kemudian mereka tiba di hutan murbei, disini adalah sebuah tempat yang hanya akan dipakai dalam upacara sembahyang besar-besaran. Ketika rombongan raja Cheng tiba, di sana sudah di penuhi dengan lautan manusia. Di depan altar sudah di penuhi dengan tumpukan kayu bakar, dengan lidah api yang menyala-nyala di altar sembahyang, beberapa pendeta tengah mempersiapkan berbagai macam pekerjaan sebelum memanjatkan doa memohon hujan.

Sample Image


Begitu tiba saatnya, raja Cheng dipapah beberapa pendeta, dan perlahan-lahan turun dari kereta menuju ke altar. Berlutut di depan altar, lalu dengan tulus dan khitmat memajatkan doa pada dewata: “Saya adalah raja, pemimpin rakyat negeri ini, biarlah segala dosa dan kesalahan saya yang tanggung, tapi saya mohon jangan limpahkan kepada rakyat… “ Saat itu, maha guru yang memimpin upacara memohon raja maju ke depan, mengambil sebuah gunting dari balik jubahnya, lalu dengan cekatan memotog rambut dan kuku raja Cheng yang panjang, kemudian diletakkan di altar sembahyang dan membakarnya.

Active Image


Setelah itu, dengan dipapah oleh 2 pendeta, raja Cheng dibawa ke tumpukan kayu bakar yang tinggi. Raja Cheng tersenyum sambil menundukkan kepalanya, sedikit pun tidak tampak takut, malah dengan khitmad berdiri di sana, khusus menanti datangnya detik-detik itu, yang mana kemudian kayu bakar di sekelilingnya itu akan dinyalakan oleh pendeta.

Ini adalah pemandangan yang sangat memilukan: matahari yang terik di puncak kepala, membakar seisi jagad raya. Tidak ada setitik pun mega di sekitar, hanya semilir angin yang meniup lembut di muka raja Cheng, ribuan rakyat jelata berdesakan di sekeliling hutan murbei. Mereka semua merasa ngeri melihat raja yang arif dan bijaksana yang mereka cintai itu. Akhirnya detik-detik itu pun tiba, suara yang memilukan bergema di telinga mereka, mencengkam sanubari semua orang. Para pendeta telah menyalakan api di altar, berkobar menyala-nyala di sekeliling tumpukan kayu bakar, dan kini tinggal menunggu perintah pimpinan pendeta.

Akhirnya para pendeta meletakkan abor di tangan mereka. Dan sesaat itu, lidah api menggulung nyala api, dan terus menjalar ke tumpukan kayu bakar, dari kejauhan tampak percikan api yang menyala-nyala telah mengepung raja Cheng yang berdiri di tumpukan kayu bakar tinggi dengan cucuran keringat, tali pemercik api yang terikat di tubuhnya sudah hampir terbakar.

Sample Image


Tepat di saat yang kritis itu, tiba-tiba terjadilah keajaiban: sebersit angin kencang disertai dengan gumpalan awan hitam, bergulung-gulung dengan cepat dari timur laut menuju ke hutan murbei. Dan dalam sekejab menyelimuti angkasa yang tadinya panas dan terik oleh sinar mentari.

Active Image

Dan seketika itu juga titik hujan sebesar kacang kedelai turun dengan lebat, menyusul dengan kilatan petir di angkasa, dan hujan turun semakin deras. Orang-orang yang selama ini mengharapkan turunnya hujan bukan main gembiranya, mereka meloncat-loncat dan bersorak gembira, menelentangkan leher mengangakan mulut menyambut air hujan, membasahkan kerongkongan yang selama ini kering, bahkan meraup air dan memukul dahi sendiri, menyatakan terima kasih.

Sample Image


Saat itu, raja Cheng yang berada di tumpukan kayu bakar juga menengadahkan kepalanya, menatap angkasa. Kening yang berkerut selama ini akhirnya terentang, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat bersyukur atas rahmat Tuhan dan berterimakasih kepada rakyatnya. Adalah ketulusan hatinya yang hendak menyelamatkan rakyatnya itulah yang telah menggugah Langit Dewata. Awan yang bergumpal-gumpal di sekeliling terus mendekati bumi. Dan akhirnya kekeringan selama 7 tahun itupun hilang tak berbekas saat itu juga.

Api yang berkobar di sekeliling tumpukan kayu bakar dan di altar persembahan sudah padam diguyur hujan. Semua orang bernyanyi gembira di tengah hujan, beberapa pendeta naik ke atas memapah raja bijaksana yang mencintai rakyatnya seperti anak sendiri dan yang rela berkorban memohon hujan demi rakyat yang dicintainya.

Hikmah yang dapat diambil dari cerita ini adalah merupakan contoh teladan bagi seorang pemimpin (raja, presiden atau bahkan seorang ketua kelas). Seorang pemimpin akan selalu berada pada barisan terdepan untuk mengayomi dan melindungi rakyatnya. Pada saat mengalami kesusahan pemimpin akan berada di depan dan jika mengalami kesenangan pemimpin berada di belakang. Jika harus lapar, pemimpin rela lebih dahulu lapar dan jika kenyang dia rela untuk mendapatkannya paling akhir. Begitu selayaknya menjadi pemimpin.

(Sumber Minghui School)

No comments: